JAKET ALMAMATER UNTUK BAPAK
Dingin pagi menyelinap lewat celah jendela kos. Di meja kecil itu, kopi instan tinggal setengah, dan buku catatan sudah penuh coretan tebal. Sinar matahari belum sepenuhnya hangat, tapi Adit sudah siap. Sepatu usang, kemeja pinjaman, dan jaket almamater yang mulai pudar warnanya.
"Bangun pagi, tidur larut, kuliah sambil kerja. Hidup lo keras banget, Dit," celetuk Rian, teman sekamar yang baru menggeliat dari kasur tipisnya.
Adit hanya tersenyum kecil. "Kalau hidup gue lembek, yang keras nanti utang ibu di kampung."
Setiap pagi seperti ini, Adit merasa waktunya terlalu sempit. Bukan karena dosen, bukan karena tugas, tapi karena ada wajah bapaknya yang terus muncul di benaknya wajah yang semakin tua, kulit yang semakin keriput, dan punggung yang makin membungkuk sejak ladang digadai demi kuliah anak semata wayang.
Adit anak petani. Ibunya jual gorengan, kadang juga cuci pakaian tetangga kalau ada yang butuh. Uang mereka tidak cukup bahkan untuk beli pulsa setiap minggu, tapi cukup untuk beli harapan. Dan harapan itu sekarang ada di pundaknya, tertulis jelas dalam bentuk kartu mahasiswa yang sudah mulai lusuh di dompet plastik.
Setelah kuliah, Adit langsung kerja paruh waktu jadi admin toko online. Upahnya tak seberapa, tapi cukup untuk bayar kos, makan, dan kadang bisa sisihkan sedikit untuk dikirim pulang. Dia tidak pernah mengeluh, walau tubuhnya sering sakit. Baginya, lelah itu sah asal jangan menyerah.
Pernah suatu malam, ibunya nelpon pakai HP tetangga.
“Nak, kamu jaga kesehatan ya. Kalau nggak sanggup, nggak apa-apa, berhenti kuliah dulu…”
Adit hanya menjawab, “Bu, nanti kalau Adit lulus, kita bisa punya sawah lagi. Bapak nggak perlu kerja berat. Ibu bisa buka warung. Sabar ya, sebentar lagi.”
Sebentar lagi, kalimat yang jadi doa dan cambuk.
Hari ini, Adit ikut sidang skripsi. Dia datang lebih awal, jaket almamaternya ia rapikan berkali-kali. Di dalam tasnya, tak hanya laptop dan naskah. Tapi juga foto kecil bapaknya yang diam-diam ia simpan sejak semester satu.
Sidangnya berjalan lancar. Dosen mengangguk, beberapa mengulas bab tiga, dan Adit menjawab dengan tenang meski tangannya dingin.
Ketika sidang selesai dan namanya dinyatakan lulus, Adit keluar ruangan dengan mata berkaca.
Bukan karena bangga. Tapi karena ia tahu, ada dua orang di kampung sana yang mungkin sedang duduk di depan radio tua, menunggu kabar darinya. Dua orang yang tak pernah minta balas budi, hanya ingin melihat anaknya berhasil meski harus bertaruh segalanya.
Di halaman kampus, Adit menatap jaket almamaternya.
“Nanti kalau pulang,” bisiknya pada diri sendiri, “jaket ini buat bapak. Biar dia tahu, perjuangan kami nggak sia-sia.”
Komentar
Posting Komentar