JAKET ALMAMATER UNTUK BAPAK
Dingin pagi menyelinap lewat celah jendela kos. Di meja kecil itu, kopi instan tinggal setengah, dan buku catatan sudah penuh coretan tebal. Sinar matahari belum sepenuhnya hangat, tapi Adit sudah siap. Sepatu usang, kemeja pinjaman, dan jaket almamater yang mulai pudar warnanya. "Bangun pagi, tidur larut, kuliah sambil kerja. Hidup lo keras banget, Dit," celetuk Rian, teman sekamar yang baru menggeliat dari kasur tipisnya. Adit hanya tersenyum kecil. "Kalau hidup gue lembek, yang keras nanti utang ibu di kampung." Setiap pagi seperti ini, Adit merasa waktunya terlalu sempit. Bukan karena dosen, bukan karena tugas, tapi karena ada wajah bapaknya yang terus muncul di benaknya wajah yang semakin tua, kulit yang semakin keriput, dan punggung yang makin membungkuk sejak ladang digadai demi kuliah anak semata wayang. Adit anak petani. Ibunya jual gorengan, kadang juga cuci pakaian tetangga kalau ada yang butuh. Uang mereka tidak cukup bahkan untuk beli pulsa setiap m...